Gula Aren Dalam Budaya Tatar Sunda









Ada kebiasaan di masyarakan tatar Sunda, dimana gula aren atau lebih dikenal gula kawung telah menjadi budaya yang sudah tua. Kekayaan pohon aren di Priangan yang tumbuh alami didaerah pegungungan menjadikan aren adalah pohon budaya luhur masyarakat Sunda. Keberadaan pohon aren sama kuatnya dengan posisi pohon bambu pada masyarakat Priangan.

Dalam tradisi Sunda, makan singkong ditemani kopi dan teh dengan pemanis gula aren adalah suguhan budaya yang berjalan turun-temurun. Jadi gula aren adalah bagian dari hidup yang tidak dapat dipisahkan ditatar Sunda.

Pohon aren umumnya tumbuh secara liar dan alami dengan bantuan menyebaran luwak atau musang yang memakan buah aren yang sudah masak. Penyebaran pohon aren inilah yang menyebabkan masyarakat Priangan menjadi pengolah gula aren alami yang handal.

Keterampilan membuat gula aren ini diturunkan dari para karuhun lintas generasi sampai hari ini. Karena keistimewaan dan keberlimpahan pohon aren ini, gula aren menjadi salah satu warisan luhur bagi masyarakat Sunda.

Hari ini, dengan semakin tingginya kesadaran masyarakat akan kesehatan, gula aren tidak sekedar menjadi warisan budaya, tetapi menjadi simbol dari hidup sehat. Gula aren yang rendah kadar glikemiknya, menjadi solusi akan maraknya penurunan derajat kesehatan masyarakat.

Melalui spirit melestarikan budaya, alam dan kesehatan, maka kembalinya gula aren dalam masyarakat modern menjadi sebuah pilihan yang tepat.

Kawungsari mencoba menghidupkan tradisi hidup sehat ini untuk memproduksi gula aren secara modern dengan tetap mempertahankan budaya dengan melakukan pemberdayaan petani aren secara berkesinambungan.

Menghidupkan gula aren juga menjadi bagian penting pelestarian hutan alami yang saat ini semakin mengkhawatirkan keberadaannya. Dengan keberadaan Parahiyangan yang strategis, dengan curah hujan yang optimal, suhu yang dingin, maka menjadi lahan subur bagi tumbuh kembang aren dimasa yang akan datang.


Kawungsari
Produsen Gula Aren
www.kawungsari.com